Nagan Raya – Memperingati 21 tahun perdamaian Aceh dan menyambut 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, Ketua STAI Darul Hikmah Aceh Barat, Dr. Tgk. Rahmat Saputra mengajak masyarakat untuk tidak sekadar mengenang sejarah, tetapi memastikan perdamaian terus menghadirkan keadilan, persatuan, dan kesejahteraan bagi rakyat. Pesan tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid Baitul Kiram, Ujung Fatihah, Kabupaten Nagan Raya, Jumat (14/8/2026).
Mengawali khutbahnya, ia menegaskan bahwa perdamaian Aceh merupakan nikmat besar yang wajib disyukuri dan harus dijaga bersama.
“Damai itu indah. Damai itu bukan sesuatu yang murah.”
Menurutnya, 15 Agustus 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan 21 tahun perdamaian Aceh sejak ditandatanganinya MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005 antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Ia pun mengajukan pertanyaan penting: sudah menjadi apa perdamaian Aceh setelah 21 tahun?
“21 tahun! Kalau manusia, sudah dewasa. Kalau anak, mungkin sudah selesai sarjana. Kalau pohon sawit, sudah ratusan kali dipetik hasilnya. Maka pertanyaannya, sudah menjadi apakah perdamaian Aceh selama 21 tahun ini?”
Pimpinan Dayah RUMI ini menegaskan, perdamaian harus dirawat melalui sikap saling menghormati, menjaga persaudaraan, menghindari fitnah, serta tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan.
Ia juga mengingatkan tantangan baru di era media sosial.
“Dulu orang bertengkar menggunakan senjata. Sekarang kadang cukup menggunakan jempol. Dulu peluru yang ditembakkan, sekarang komentar yang ditembakkan.”
Menurutnya, satu unggahan provokatif dapat memicu kecurigaan dan perpecahan di tengah masyarakat. Karena itu, masyarakat harus lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi.
Selain refleksi 21 tahun Damai Aceh, Dr. Rahmat juga mengaitkannya dengan momentum 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang diperingati pada 17 Agustus 2026.
Menurutnya, kemerdekaan bukan sekadar upacara, pemasangan bendera, maupun peringatan seremonial saja.
Kemerdekaan, katanya, harus diwujudkan dalam bentuk keadilan, kesejahteraan, pendidikan berkualitas, pelayanan kesehatan, dan kesempatan ekonomi yang merata.
“Apa arti Indonesia merdeka kalau keadilan hanya dirasakan sebagian orang? Apa arti kekayaan negeri kalau kemiskinan tidak bisa dituntaskan? Apa arti kemerdekaan kalau korupsi masih merajalela dan menyengsarakan rakyatnya?”
Dalam khutbah tersebut, ia menilai bahwa makna perdamaian dan kemerdekaan akan semakin nyata ketika seluruh anak bangsa memperoleh akses terhadap pendidikan yang berkualitas.
Pendidikan, menurutnya, merupakan instrumen penting untuk membebaskan generasi muda dari kebodohan dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Ia juga menyoroti pentingnya pelayanan kesehatan yang baik agar masyarakat dari berbagai lapisan dapat memperoleh perawatan yang layak.
“Jangan sampai ada orang sakit tetapi tidak mendapatkan perawatan yang baik, atau bahkan tidak mendapatkan kamar rawat inap,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat membangun budaya hidup sehat dan meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan generasi muda.
Persoalan ekonomi masyarakat juga menjadi perhatian dalam khutbah tersebut.
Tgk. Rahmat mengingatkan bahaya judi online, pinjaman online ilegal, investasi bodong, dan berbagai tawaran cepat kaya yang dapat menjerumuskan masyarakat ke dalam kerugian.
Menurutnya, penguatan ekonomi masyarakat harus menjadi bagian dari agenda membangun perdamaian dan mengisi kemerdekaan.
Masyarakat perlu didorong menjadi lebih cerdas secara ekonomi, memiliki keterampilan, membangun usaha, serta memperoleh akses terhadap kesempatan kerja yang produktif.
Pada saat yang sama, ia mengajak masyarakat yang memiliki kelebihan rezeki untuk meningkatkan kepedulian sosial kepada kaum dhuafa.
“Sungguh, andaikan yang kaya mau berbagi, tidak ada rumah tidak layak huni dan tidak ada fakir miskin di negeri ini.”
Menutup khutbahnya, Tgk. Rahmat menegaskan bahwa menjaga perdamaian Aceh bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tugas seluruh elemen masyarakat.
Ia menyebut pemerintah harus bekerja keras meningkatkan kesejahteraan rakyat, Ulama menjadi panutan, masyarakat tidak mudah terprovokasi hoaks, pemuda harus berdaya, serta penegak hukum harus menjalankan tugas secara adil.
Ia juga mengajak masyarakat membangun Aceh dengan iman dan ketakwaan, merawat perdamaian dengan persaudaraan, serta mengisi kemerdekaan dengan keadilan.
“Semoga 21 tahun Damai Aceh menjadi awal dari perdamaian yang mampu mensejahterakan rakyat. Semoga 81 tahun Kemerdekaan Indonesia menjadi jalan menuju Indonesia yang benar-benar berdaulat, adil, dan makmur,” pungkasnya.
Aceh Barat – Kabar membanggakan kembali datang dari STAI Darul Hikmah Aceh Barat. Dr. Tgk.…
Jakarta – Ketua STAI Darul Hikmah Aceh Barat, Dr. Tgk. Rahmat Saputra, MD., menghadiri International…
Aceh Barat – STAI Darul Hikmah Aceh Barat melaksanakan Tes Seleksi Penerimaan Program Beasiswa Tahun…
Aceh Barat – STAI Darul Hikmah Aceh Barat menerima kunjungan istimewa dari Al Syeikh Al…
Aceh Barat – STAI Darul Hikmah Aceh Barat memberikan reward senilai jutaan rupiah kepada mahasiswa…
Aceh Barat – STAI Darul Hikmah Aceh Barat terus memperluas jejaring akademik di tingkat internasional…